Ondol, sistem pemanas rumah yang sangat efisien dan baik bagi kesehatan manusia, merupakan inovasi khas Korea.

<Ondol adalah sistem pemanas tradisional Korea yang memanfaatkan batu masak yang dipanaskan di dapur untuk menghangatkan seluruh ruangan (kiri). Batu-batu yang disusun di bawah ruang ondol saat pembangunan rumah tradisional Korea (Hanok) (kanan).>
Ondol, sistem pemanas khas Korea
Awal abad ke-20 Korea yang penuh gejolak menyaksikan orang Korea, baik secara sukarela maupun terpaksa, memutus hampir seluruh keterikatan mereka dengan budaya tradisional demi menyambut adat Barat dengan antusias. Pakaian tradisional ditinggalkan dan digantikan oleh setelan Barat, sementara rumah beratap genteng disisihkan untuk membangun gedung apartemen dan rumah bergaya Barat. Namun, beberapa aspek budaya tradisional tetap bertahan kuat selama bertahun-tahun, salah satu yang paling penting adalah ondol. Meskipun Korea dipenuhi apartemen bertingkat tinggi modern, ruangan-ruangan di gedung apartemen tersebut selalu dibangun dengan lantai ondol bergaya modern. Selain itu, meskipun sebagian besar orang Korea tinggal di rumah bergaya Barat, mereka tidak mengikuti kebiasaan beberapa negara Barat yang memakai sepatu di dalam rumah.

<Ruangan berpemanas ondol di rumah tradisional Korea (hanok).>
Mengapa orang Korea begitu mempertahankan ondol? Alasannya sederhana: semua orang menyukainya. "Ondol" adalah karakter Tionghoa untuk istilah Korea "gudeul," yang secara harfiah berarti "batu yang dipanggang." Dengan demikian, ondol merujuk pada sistem pemanas di mana batu-batu "dipanggang" untuk menghangatkan lantai dan, bersamanya, seluruh ruangan—sebuah sistem luar biasa yang sepenuhnya khas Korea dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
Gudeul, sistem pemanas ilmiah yang dikembangkan selama ribuan tahun
Sejarah ondol di Korea membentang selama ribuan tahun, sebagaimana dibuktikan oleh artefak prasejarah hasil penggalian dari Zaman Besi (sekitar abad ke-2) dan lukisan dinding Goguryeo. Ondol paling awal hanya menghangatkan sebagian ruangan. Sistem pemanas untuk seluruh ruangan pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-13 pada masa Dinasti Goryeo dan menjadi lazim di seluruh Semenanjung Korea pada awal Dinasti Joseon (akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16). Masa perkembangan ondol yang panjang telah menghasilkan sistem yang sangat ilmiah dan struktur yang kompleks.

<Sisa-sisa ondol dari Era Okjeo (abad ke-3 SM) dan Era Balhae (698~926 M).>

<Sisa-sisa ondol yang terawetkan sempurna dari awal Zaman Besi, digali di Sinbuk-eup, Chuncheon, Provinsi Gangwon-do.>
Aspek terpenting dari struktur ondol adalah gorae, yaitu area tempat asap dari batu-batu yang dipanaskan mengalir (lihat diagram di bawah). Di atas gorae dipasang batu-batu datar dan lebar (gudeul), yang kemudian dilapisi tanah liat merah untuk mencegah asap merembes keluar. Ketika api dinyalakan di perapian, api dan asap panas melewati gorae di bawah ruangan, menaikkan suhu lantai, lalu keluar melalui cerobong di ujungnya. Prinsip ondol memanfaatkan konduksi, radiasi, dan konveksi panas secara bersamaan. Panas dihantarkan melalui batu-batu yang terpasang pada lantai, lalu memancar ke seluruh lantai. Dengan kata lain, suhu hangat dipertahankan melalui konveksi udara.
Satu-satunya tempat lain di dunia yang menggunakan prinsip pemanas serupa adalah sebagian wilayah Tiongkok Timur Laut dan Mongolia. Tiongkok Timur Laut menggunakan sistem ondol awal yang hanya menghangatkan area tertentu di kamar tidur, sementara di Mongolia sistem pemanas ondol digunakan untuk lantai ger, hunian tradisional (juga disebut yurt). Sistem pemasangan gudeul di seluruh lantai ruangan hanya ditemukan di Korea. Keunggulannya meliputi efisiensi panas, penggunaan bahan bakar dan fasilitas yang ekonomis, serta daya tahan. Keunggulan terbesarnya adalah manfaatnya bagi kesehatan.

<Diagram struktur dan prinsip ondol.>
Berdampingan dengan budaya hunian modern
Mengapa pemanasan lantai bermanfaat? Orang Korea umumnya percaya bahwa menjaga tangan dan kaki tetap hangat serta kepala tetap sejuk baik untuk kesehatan. Prinsip inilah yang dimungkinkan oleh ondol. Selain itu, ondol merupakan sistem pemanas yang sangat ekonomis. Hanya seperlima dari panas yang dihasilkan oleh perapian Barat yang benar-benar terpancar ke dalam ruangan. Sebagai perbandingan, ondol menyimpan panas yang dihasilkan di dalam gudeul, sehingga panas dapat dipancarkan dalam jangka waktu lama, bahkan hingga beberapa hari, jika gudeul dipasang dengan benar. Sementara asap dari perapian masuk ke ruangan dan membuat udara menjadi pekat, ondol tidak memiliki masalah tersebut; karena ondol tidak hanya menghangatkan lantai tetapi juga dapat digunakan untuk memasak, sistem ini sangat efektif—sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Belakangan ini, para arsitek yang memperhatikan efektivitas dan keunggulan ondol mencoba berbagai cara untuk menggunakan ondol di rumah modern. Dengan diperkenalkannya ondol Korea di Tiongkok, Jepang, bahkan Eropa, sistem ini mulai mendapatkan pengakuan sebagai sistem baru pemanas rumah.

<Berkat sifat ilmiahnya yang unggul, ondol masih digunakan dalam arsitektur modern. Ruang ondol di gedung apartemen modern tidak dipanaskan dengan api dapur tradisional, melainkan dengan memasang pipa di lantai yang dialiri air panas dari boiler untuk menghangatkan ruangan.>
* Foto atas izin Korea Tourism Organization dan Cultural Heritage Administration of Korea.